Sabtu, 11 Februari 2012

KOPRAL JONO (THE COMIC)

Judul Komik: KOPRAL JONO
Author : Nita Dananti Dewi
Baca versi Premium
Baca versi Gratis


Jangan main-main dalam mengambil tema atau membuat karakter sebuah komik !

Apakah ini ancaman? Peringatan ?
Bukan. Ini cuma kata-kata iseng yang nggak usah dipikirkan kelanjutannya..(Ha..ha..ha..)

Sekedar sharing pengalaman, kadang proses pembuatan sebuah komik bisa lebih seru dari komiknya sendiri (apalagi kalau komiknya memang nggak ada seru-serunya sama sekali. Ehem !)

Dan satu pengalaman yang ingin kuceritakan disini adalah waktu aku membuat komik KOPRAL JONO, untuk Lomba Ngomik Indonesia Banget 2011 (Ngomik.com). Mengambil tema perjuangan dengan karakter utama konyol, agak naif, dan sering sial. Gara-gara itu aku bener-bener dibuat merasakan yang namanya perjuangan. Gara-gara itu pula, aku sempat merasa lebih konyol dari semua karakter komik yang penah kubuat.

Di bulan Agustus 2011, semua ini berawal. Aku dapat info lomba sudah agak telat. Jadinya aku cuma punya waktu kurang dari sebulan (sebelum deadline tanggal 9 September 2011). Dengan semangat menyala-nyala aku mulai mengerjakannya. Tapi menyelesaikan komik 29 halaman dengan waktu yang cuman segitu ternyata nggak mudah. Ide yang datangnya cuma sepotong-sepotong, membuatku menghabiskan persediaan mie instan di rumah (ada beberapa temen yang suka nyari ide sambil ngopi, nah aku nyari ide sambil makan mie  ). Genre komedi yang sejak awal kupilih, lama-lama kerasa berat. Yak... mungkin aku kepedean, merasa akan bisa membuat orang tertawa. Dan setelah kubaca-baca lagi draftnya, aku cuman bisa bilang, “nggak ada waktu lagi buat pindah genre...” (yaaah.....)

Kemampuan menggambarku ternyata lebih parah lagi dari kemampuan berceritaku. Teknik gambar yang manual 100 %, garis panel yang mencong-mencong, ditambah sidik jariku yang belepotan dimana-mana, membuatku merasa ngeri sendiri. Empat hari sebelum deadline, 10 halaman terakhir masih putih bersih belum diapa-apain, halaman-halaman awal juga masih bolong-bolong, dan cover juga belum dibuat. Waktu terus merambat. Begadang buat ngerjain komik pun dilakukan, tapi nggak selesai-selesai juga (membuatku merasakan bagaimana rasanya kalau para komikus sedang dikejar deadline, jadi salut sama mereka!).

Tanggal 8 September 2011 siang, dengan covernya yang masih basah (cat air) akhirnya naskah siap (meski jelas nggak maksimal). Lega untuk sesaat. Ya..sesaat, sampai kemudian panik lagi saat mau mengubah naskah ke format digital.

“Wah nggak bisa! Sini scannernya ukuran kwarto”  Dhuueeeeeng....!! Kata-kata mbak di tempat fotokopian, baru menyadarkanku kalau kertas yang kugunakan untuk bikin komik itu ukurannya folio sedangkan kebanyakan scanner di tempat-tempat fotokopi & cetak digital ukurannya kwarto. Dan benar saja, hampir semua tempat fotokopi & cetak digital di kotaku kudatangi, tapi nggak ada yang punya scanner ukuran folio.

Capek, panas, hampa, patah hati (berlebihan..) aku pulang. Rasanya kecewa banget, sia-sia banget, tapi untungnya aku belum benar-benar menyerah. Keinginanku yang besar untuk bisa ikut lomba ngomik, sanggup membuatku melakukan hal apa saja, termasuk tindakan nggak populer sekaligus nggak keren, mengubah naskah komik dari ukuran folio ke kuarto dengan mengadopsi teknik sepupuku yang anak TK: menggunting dan menempel.

Begadang again!

9 September 2011, batas waktu terakhir upload komik. Naskah selesai di scan, tanpa sempat diedit segala macam, langsung ku upload sebagai komik premium di Ngomik.com. Wah legaaaa banget rasanya. Udah? Selesai? Belom!

Dasar aku memang ceroboh, nggak teliti, gaptek juga! (penyakit yang nggak sembuh-sembuh) ternyata aku lupa naruh komik di slot submisi lomba. Seminggu kemudian baru ketahuan ternyata aku nggak masuk dalam daftar peserta lomba. Huuuaaaaaaaa....... (kebayang gimana tololnya aku )

Dari saran temen ngomik, aku disarankan menghubungi adminnya. Dan Alhamdulillah....... mereka baik-baik. Komikku akhirnya diikutkan dalam lomba dan aku mendapatkan nomor urut 11 waktu itu.

Yaah...ini adalah pengalaman ngomik yang nggak akan pernah kulupakan. Aku bersyukur dan berterimakasih pada semuanya, akhirnya komik KOPRAL JONO mendapatkan juara ketiga untuk kategori pilihan juri.

Komik KOPRAL JONO adalah komik one-shot, tapi aku yakin masih bisa melanjutkannya dalam banyak chapter. Karakter Kopral Jono sendiri kadang seperti memberiku semangat agar aku bisa menyelesaikan komiknya. Harapanku semoga yang baca komik ikut tertular semangatnya juga :)

*****


Tidak ada komentar:

Posting Komentar