Sabtu, 11 Februari 2012

Indonesië Lover : Bright & Blonde (THE COMIC)

Judul Komik : Indonesië Lover : Bright & Blonde
Author : Nita Dananti Dewi
Baca Gratis


Orisinalitas. Komikus mana yang berani mengklaim setiap karyanya adalah 100% orisinal. Kalau disuruh tunjuk jari mendingan pada mengikat tangan di belakang punggung (sambil siul-siul pura-pura nggak dengar.... wkwkwkwk......)

Hidup dalam keleluasaan akses informasi, di satu sisi jelas sangat menguntungkan, tapi di sisi lain membuat kita semakin jauh dari yang namanya orisinalitas, atau minimal memangnya ada yang mau percaya kalau karya kita itu bener-bener orisinal. (contoh seseorang yang menulis kisah percintaan antara manusia dan vampire. Meskipun misalnya dia yakin belum pernah baca or nonton Twilight, orang nggak akan mau percaya kalau ide itu bener-bener berasal dari dia. Salah-salah dia justru diledekin, kemana aja sampai nggak tahu Twilight. Nggak ada yang salah di sini, .....yang salah Stephanie Meyer!)

Nah...waktu menyelesaikan Indonesië Lover chapter 1: The Student, dan mau mulai mengerjakan Indonesië Lover chapter 2: Bright & Blonde ini, aku kesandung (cieeh..diksinya..) dengan masalah orisinalitas ini. Protes datang dari temanku, “Ta, ini cerita percintaan student Indonesia sama sama noni Belande ya? Kok mirip Student Hidjo?”

Plash! Kena tampar deh. Seketika itu juga aku sadar dan menggumam, “Eh...iya...ya...”

Well, Student Hidjo. Ingatanku melayang waktu masih semester awal kuliah. Itu novel koleksi perpustakaan Universitas, yang kubaca sambil lalu. Pertama ejaan lamanya membuatku nggak nyaman bacanya. Kedua, aku sambil ngerjain tugas kuliah, jadi nggak serius bacanya. Aku hampir-hampir lupa dengan novel ini. Yang paling kuingat itu ada menyinggung-nyinggung soal kongres Sarikat Islam, terus seingatku kayaknya ada adegan percintaan ‘kelas berat’ (yang gitu tuh..) tapi dilukiskan dengan kata-kata yang sangat sopan. Ntar kucari lagi deh buku ini, khusus baca yang bagian itu (ngehehehehe....)

Kalau ditanya apakah Indonesië Lover terinspirasi dari Student Hidjo ? Aku nggak yakin. Itu sangat mungkin karena aku pernah baca novelnya, menyerap informasi dari situ, dan nggak sadar mengeluarkannya kembali.

Penasaran, kurunut sendiri proses pencarian ide Indonesië Lover. Pertama dulu, aku pingin buat kisah tentang dua manusia berbeda bangsa yang disatukan oleh cinta. Nah ide awalnya aja memang udah nggak orisinal. Kisah Pocahontas dan John Smith udah yang paling duluan muncul, meski denger-denger menuai kritik yah? Penulisnya rada setengah-setengah menggarap tema persamaan (kesederajatan) ras. Pocahontas (Indian) dan Smith (Inggris) dibuat nggak jadian, menunjukkan masih adanya perasaan nggak rela (kayaknya syih gitu..!).

Balik ke Indonesië Lover, awalnya dulu aku punya ide cerita tentang seorang talambtenaar Belanda yang jatuh cinta pada seorang putri keraton (Jawa). Tapi setelah kupikir-pikir kenapa tokoh utama perempuannya selalu jatuh jadi wakil bangsa terjajahnya. Karena aku perempuan, gantian aku yang nggak rela. Dengan kuasa penuh yang bisa dimiliki oleh pembuat komik (O...yeah!) Kubalik. Tokoh ceweknya harus yang dari bangsa penjajah, sedang tokoh cowoknya yang jadi bangsa terjajah.

Dari sini inspirasi pun datang. Aku yang fans berat Hatta, langsung teringat kisah super singkatnya dengan gadis Polandia cantik, waktu jadi student di Belanda. Terciptalah karakter Husein Narotama yang ‘Hatta banget’, dan Louise Van Buren yang ‘pirang banget’. Dan cerita pun mengalir....

Nah...nah...nah.....
Tamparan temenku akhirnya membuatku belajar tentang orisinalitas. Keaslian ide secara mutlak memang agak susah. Kita manusia mudah sekali terinspirasi entah itu sadar ataupun tidak. Mungkin yang perlu kita lakukan adalah bersikap fair.

Di penulisan ilmiah kita memakai kutipan, menyertakan identitas sumbernya untuk menghindari bentuk plagiarisme. Di dunia komik or manga kita mencantumkan credit untuk menghargai ide dan sumbangan orang lain dalam karya kita, entah itu dalam bentuk inspirasi atau yang lainnya.

Yang pasti aku setuju bahwa plagiarisme jelas adalah musuh orang-orang kreatif.

Aku sempat mendengar alasan keengganan seseorang memajang komiknya di free webcomic, karena takut idenya di contek. Kalau pendapatku pribadi (pendapat ku lho ya...) kita harus berprasangka baik. Sesama komikus (wanna be) adalah teman. Masa belum-belum kita udah nyangka yang nggak-nggak. Tapi semisal kejadian beneran, kita sedang sial,  atau dikasi cobaan dengan skenario macam itu. Wah...... gimana ya...hahaha.... Lebih nyebelin lagi kalau misalnya itu ide contekan malah lolos ke penerbit...(contoh fiktif).

Berdoa aja deh, biar hati kita tetap kuat buat bilang:
 “Contek aja! Ane masih punya ide segudang kok. Nggak bakalan habis buat tujuh turunan! Lagian ane lebih jago bikin joke, lebih ahli bikin twist, lebih manteb bikin dialog tiada tara. Dan yang paling penting ane bukan tukang nyontek!!”

******


Tidak ada komentar:

Posting Komentar