Judul Komik : Indonesië Lover : Bright & Blonde
Author : Nita Dananti Dewi
Baca Gratis
Orisinalitas. Komikus mana yang
berani mengklaim setiap karyanya adalah 100% orisinal. Kalau disuruh tunjuk
jari mendingan pada mengikat tangan di belakang punggung (sambil siul-siul
pura-pura nggak dengar.... wkwkwkwk......)
Hidup dalam keleluasaan akses
informasi, di satu sisi jelas sangat menguntungkan, tapi di sisi lain membuat
kita semakin jauh dari yang namanya orisinalitas, atau minimal memangnya ada
yang mau percaya kalau karya kita itu bener-bener orisinal. (contoh seseorang
yang menulis kisah percintaan antara manusia dan vampire. Meskipun misalnya dia
yakin belum pernah baca or nonton Twilight, orang nggak akan mau percaya kalau
ide itu bener-bener berasal dari dia. Salah-salah dia justru diledekin, kemana
aja sampai nggak tahu Twilight. Nggak ada yang salah di sini, .....yang salah
Stephanie Meyer!)
Nah...waktu menyelesaikan Indonesië Lover chapter 1:
The Student, dan mau mulai mengerjakan Indonesië Lover chapter 2: Bright & Blonde ini, aku kesandung (cieeh..diksinya..) dengan masalah orisinalitas ini.
Protes datang dari temanku, “Ta, ini cerita percintaan student Indonesia sama
sama noni Belande ya? Kok mirip Student Hidjo?”
Plash! Kena tampar deh. Seketika itu juga aku sadar
dan menggumam, “Eh...iya...ya...”
Well, Student Hidjo. Ingatanku melayang waktu masih
semester awal kuliah. Itu novel koleksi perpustakaan Universitas, yang kubaca
sambil lalu. Pertama ejaan lamanya membuatku nggak nyaman bacanya. Kedua, aku
sambil ngerjain tugas kuliah, jadi nggak serius bacanya. Aku hampir-hampir lupa
dengan novel ini. Yang paling kuingat itu ada menyinggung-nyinggung soal
kongres Sarikat Islam, terus seingatku kayaknya ada adegan percintaan ‘kelas
berat’ (yang gitu tuh..) tapi dilukiskan dengan kata-kata yang sangat sopan.
Ntar kucari lagi deh buku ini, khusus baca yang bagian itu (ngehehehehe....)
Kalau ditanya apakah Indonesië Lover terinspirasi dari
Student Hidjo ? Aku nggak yakin. Itu sangat mungkin karena aku pernah baca
novelnya, menyerap informasi dari situ, dan nggak sadar mengeluarkannya
kembali.
Penasaran, kurunut sendiri proses pencarian ide Indonesië
Lover. Pertama dulu, aku pingin buat kisah tentang dua manusia berbeda bangsa
yang disatukan oleh cinta. Nah ide awalnya aja memang udah nggak orisinal.
Kisah Pocahontas dan John Smith udah yang paling duluan muncul, meski
denger-denger menuai kritik yah? Penulisnya rada setengah-setengah menggarap
tema persamaan (kesederajatan) ras. Pocahontas (Indian) dan Smith (Inggris)
dibuat nggak jadian, menunjukkan masih adanya perasaan nggak rela (kayaknya
syih gitu..!).
Balik ke Indonesië Lover, awalnya dulu aku punya ide
cerita tentang seorang talambtenaar Belanda yang jatuh cinta pada seorang putri
keraton (Jawa). Tapi setelah kupikir-pikir kenapa tokoh utama perempuannya
selalu jatuh jadi wakil bangsa terjajahnya. Karena aku perempuan, gantian aku
yang nggak rela. Dengan kuasa penuh yang bisa dimiliki oleh pembuat komik
(O...yeah!) Kubalik. Tokoh ceweknya harus yang dari bangsa penjajah, sedang
tokoh cowoknya yang jadi bangsa terjajah.
Dari sini inspirasi pun datang. Aku yang fans berat
Hatta, langsung teringat kisah super singkatnya dengan gadis Polandia cantik,
waktu jadi student di Belanda. Terciptalah karakter Husein Narotama yang ‘Hatta
banget’, dan Louise Van Buren yang ‘pirang banget’. Dan cerita pun mengalir....
Nah...nah...nah.....
Tamparan temenku akhirnya membuatku belajar tentang
orisinalitas. Keaslian ide secara mutlak memang agak susah. Kita manusia mudah
sekali terinspirasi entah itu sadar ataupun tidak. Mungkin yang perlu kita
lakukan adalah bersikap fair.
Di penulisan ilmiah kita memakai kutipan, menyertakan
identitas sumbernya untuk menghindari bentuk plagiarisme. Di dunia komik or
manga kita mencantumkan credit untuk menghargai ide dan sumbangan orang lain
dalam karya kita, entah itu dalam bentuk inspirasi atau yang lainnya.
Yang pasti aku setuju bahwa plagiarisme jelas adalah musuh
orang-orang kreatif.
Aku sempat mendengar alasan keengganan seseorang
memajang komiknya di free webcomic, karena takut idenya di contek. Kalau
pendapatku pribadi (pendapat ku lho ya...) kita harus berprasangka baik. Sesama
komikus (wanna be) adalah teman. Masa belum-belum kita udah nyangka
yang nggak-nggak. Tapi semisal kejadian beneran, kita sedang sial, atau dikasi cobaan dengan skenario macam itu.
Wah...... gimana ya...hahaha.... Lebih nyebelin lagi kalau misalnya itu ide
contekan malah lolos ke penerbit...(contoh fiktif).
Berdoa aja deh, biar hati kita tetap kuat buat bilang:
“Contek aja!
Ane masih punya ide segudang kok. Nggak bakalan habis buat tujuh turunan! Lagian
ane lebih jago bikin joke, lebih ahli bikin twist, lebih manteb bikin dialog
tiada tara. Dan yang paling penting ane bukan tukang nyontek!!”
******


